MIKROPLASTIK : Bahaya yang Sering Kita Abaikan !


Di era sekarang, plastik telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Banyak peralatan rumah tangga yang terbuat dari bahan dasar plastik. Plastik memang memberikan kemudahan dalam penggunaanya. Namun, di balik manfaat itu, ada aspek negatif yang jarang kita sadari. Sifat plastik yang sulit terurai lama kelamaan akan pecah menjadi partikel super kecil yang disebut mikroplastik. Nah, partikel mungil inilah yang tanpa disadari bisa menjadi masalah serius bagi lingkungan dan kesehatan kita.


Apa Itu “Mikroplastik ?”


Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil yang terbentuk dari pecahan plastik berukuran lebih besar. Sumbernya bisa berasal benda yang sering kita gunakan sehari-hari, seperti serat pakaian, bungkus makanan dan minuman, kantong plastik, peralatan rumah tangga hingga produk perawatan tubuh.  Mikroplastik dibagi menjadi dua jenis, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder.


1. Mikroplastik Primer


Mikroplastik primer adalah partikel plastik yang diproduksi dalam ukuran super kecil untuk keperluan industri atau pengobatan. Contohnya yaitu microbeads (bulir plastik) yang digunakan untuk produk perawatan tubuh, seperti sabun dan scrub. Namun, karena terbukti tidak ramah lingkungan, kini microbeads mulai diganti dengan bahan alami, seperti serbuk kulit kenari, oat, gula, dan biji jojoba.


2. Mikroplastik Sekunder


Berbeda dengan primer, mikroplastik sekunder terbentuk dari pecahan plastik berukuran lebih besar yang mengalami penguraian dari plastik yang telah ada di lingkungan. Mikroplastik sekunder bisa berasal dari kantong plastik, botol minuman, serat kain sintesis, hingga berbagai jenis bungkus makanan.


Kenapa Mikroplastik Berbahaya ?


Partikel mikroplastik kini sudah tersebar hampir di seluruh dunia. Menurut artikel yang diterbitkan oleh Cornell Chronicle (2024) yang merangkum sebuah jurnal Enviromental Science & Technology pada 24 April 2024, tercatat penyerapan partikel mikroplastik sudah terdeteksi berada di 109 negara akibat pengelolaan plastik yang kurang baik. Artinya, jejak plastik yang kita gunakan sehari-hari bisa berakhir merusak ekosistem, mencemari air dan tanah, hingga kembali masuk ke tubuh manusia.


Dilansir dari program Plastic Smart Cities WWF-Indonesia, mikroplastik telah ditemukan di dalam air, baik air kemasan maupun air keran, udara yang kita hirup, bahkan makanan yang kita konsumsi sehari-hari, seperti ikan dan kerang. Ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh, partikel-partikel ini dapat menyebabkan peradangan, kerusakan sel, dan gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa mikroplastik membawa bahan kimia berbahaya yang dapat memicu masalah kesehatan jangka panjang.


Di perairan, organisme akuatik rentan terhadap mikroplastik karena ukuran partikel yang kecil dan sering kali menyerupai plankton, yang merupakan sumber makanan bagi banyak organisme laut. Mikroplastik juga dapat terakumulasi di tanah pertanian dan terbawa oleh aliran air hujan ke dalam sistem sungai dan danau, mengancam organisme yang hidup di lingkungan tersebut.


Apa yang Bisa Kita Lakukan ?


1. Kurangi Plastik Sekali Pakai


Langkah paling sederhana yang bisa kita lakukan yakni mulai membiasakan diri untuk membawa tas belanja ramah lingkungan, menggunakan botol minum isi ulang, serta menggunakan wadah makanan pribadi. Kebiasaan kecil ini akan sangat membantu mengurangi jumlah plastik sekali pakai.


2. Kelola Sampah Plastik dengan Prinsip 3R


Prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) bisa kita terapkan untuk menangani sampah plastik. Kita bisa memulainya dari rumah dengan cara memilah sampah, agar lebih mudah mengetahui mana yang dapat di daur ulang dan mana yang memerlukan penanganan khusus. Dengan cara ini, sampah plastik tidak menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan resiko pencemaran lingkungan bisa ditekan.


3. Beralih ke Material Alami


Sebisa mungkin, mari kita menghindari pakaian dan benda yang berbahan sintetis seperti pakaian berserat sintesis, sapu plastik, atau wewangian buatan. Sebagai gantinya, kita bisa beralih ke bahan alami seperti katun, linen, bambu, atau kayu yang kini tersedia dengan desain modern, tetap praktis dan lebih ramah lingkungan.


4. Gunakan Bioplastik sebagai Alternatif


Bioplastik hadir sebagai alternatif ramah lingkungan untuk menggantikan plastik konvensional. Produk ini terbuat dari biomassa terbarukan dan dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme. Bahan baku bioplastik biasanya berasal dari pati jagung, gandum, kentang, atau minyak nabati seperti minyak kedelai. Ada juga bioplastik berbahan dasar hewani, seperti gelatin dan kasein, meskipun penggunaannya masih terbatas.




Sumber Referensi :

  • Amanu, AA, Zahrani, AP, Ristaatin, FA, Ardillah, AR, & Radianto, DO (2024). Pengaruh Limbah Mikroplastik Terhadap Organisme dan Upaya Penanganannya. Manufaktur: Publikasi Sub Rumpun Ilmu Keteknikan Industri , 2 (2), 12-24.

  • Aryanti, C. A., Amir, F., & Simbolon, M. Y. (2025). Literature Review: Identifikasi Mikroplastik Terhadap Lingkungan Laut Dan Biota Laut. Jurnal Riset Kelautan Tropis (Journal Of Tropical Marine Research)(J-Tropimar), 7(1), 16-26.

  • Defitri, Mita. (2023). Waste4Change, Mikroplastik: Sumber, Jenis, hingga Bahayanya bagi Lingkungan. Diakses pada 23 Agustus 2025, dari https://waste4change.com/blog/mikroplastik-pengertian-asal-bahaya-di-lingkungan/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *